Selasa, 14 Desember 2010

Kisah saat nyalon (wanita, uang, cinta)


ini uda jadul si kejadiannya, en nulisnya juga uda dari jaman kapan, so settingnya disesuaikan waktu itu.

(16 Agustus 2009)

Sewaktu di salon tadi, aq bertanya kepada mbak salon, “mb, udah nikah?” kemudian mbak salon menjawab, “sudah mba..”. kemudian aq bertanya lagi, “mba, udah punya anak?”, kemudian mba salon (sampai aq selesai nyalon, aq gak tau namanya, red), dan mba salon menjawab “belum punya mba, tapi untuk umur saya, sepertinya saya sudah tidak berniat untuk punya anak, maklum saya sudah kepala empat. Lagian, punya anak itu repot, karena tanggung jawabnya besar.”

Saat ini, memiliki anak ataupun menikah bukan hal yang mudah lagi, karena kita sudah dibebani oleh berbagai macam pikiran dan tanggungjawab. Bandingkan dengan jaman kakek dan nenek kita, kebanyakan mereka menikah dahulu, soal hidup ataupun kebutuhan yang lain itu urusan belakangan, bahkan mereka tak memikirkan soal cinta.

Aku ingat ketika didongengi oleh mamah, nenek menikah sewaktu masih berumur sangat belia, bahkan belum mengerti apa arti cinta. Mungkin kasus Syeh Puji bukan hal yang aneh pada masa tersebut, karena uang, dan kekuasaan merupakan hal yang mutlak dan dapat membeli segalanya, termasuk pernikahan.

Ketika jaman ayah ibu kita, idealisme cinta mulai berbicara. Hidup adalah cinta. Cinta dapat membuat kita hidup, harta dan lainnya adalah kebutuhan sekunder, atau malah merupakan tertier. Kita bisa hidup hanya dengan bermodalkan cinta. Namun apakah itu benar?

Mari sekarang kita beranjak pada jaman kita sekarang. Aq jadi teringat pesan mba salon tadi, “mba, sekarang hidup gak pake cinta, tapi pake uang. Banyak orang akhirnya berpisah karena materi. Matre itu perlu, selama masih dalam batas wajar.” Aq mulai berpikir, benar juga apa kata mba ini (mba salon, red). Setidaknya aq harus mulai memperhatikan masa depan yang aq jalani. Tapi, apakah kita akan kembali pada masa kakek nenek kita? Aq rasa jawabannya adalah kombinasi dari kedua jaman, yaitu jaman kakek nenek kita dan jaman ayah ibu kita.

Kita harus memiliki batasan seperti apa kehidupan yang ingin kita jalani, termasuk pendamping hidup yang ideal menurut kita. Aku rasa, criteria ku cukup dengan hidup yang tidak terlalu sederhana, tapi harus bisa menghidupi keluarga kami kelak, karena, terus terang, aku tidak siap untuk hidup susah, dan aku ingin keluarga ku (mama) pun tidak merasakan kepedihan dan kejamnya kehidupan.

Memang, hidup seperti roda yang berputar, namun, bila kita tanyakan pada diri kita sendiri, maukah atau siapkah kita dengan hidup? Dan aku jamin kita pasti menjawab tidak (opini penulis, red). Yah intinya, kita punya batas kemampuan untuk menghadapi masalah, dan jangan pernah menyamakan kemampuan setiap orang, karena aku sering mendengar “saya aja bisa ngelakuin ini, koq kamu gak bisa?” dan saya benci mendengar opini seperti itu.

Tapi, sekarang pertanyaannya, kenapa sekarang lebih banyak kasus perceraian dibandingkan dahulu? Apakah semakin tinggi idealisme, berpengaruh pula tingkat perpisahan? Silahkan dijawab sendiri…

0 komentar:

Posting Komentar